Minggu, 20 November 2016
3 Composers Jadi pengisi Original soundtrack Film The chocolate chance.
3 Composer merupakan sebuah grup musik asal Indonesia yang dibentuk pada tahun 2012. Grup musik ini beranggotakan 3 orang hits maker yaitu Tengku Shafick, Bemby Noor dan Mario Kacang. Disebut sebagai hits maker, karena sebagai komposer, masing-masing dari mereka telah menciptakan lagu-lagu luar biasa yang sukses dibawakan oleh penyanyi-penyanyi hits Indonesia maupun luar negeri.
Darihati Films sebagi rumah produksi Film layar Lebar Film The Chocolate Chance, mempercayakan kepada 3 composers untuk mengisi soundtrak film yang bakal tayang 2 februari 2017. Karjasama ini diharapkan bisa menyatu antara musik dan filmnya nanti.
" Cita tak pernah salah ' dipilih menjadi judul OST film The chocolate chance, sebagai inti dari kisah Film ini. Lagu ini sudah bisa di request di radio-radio seluruh indonesia mulai tanggal 11 november 2016.
Adapun isi lirik lagu Cinta tak pernah salah sebagai berikut :
mengapa terjadi
kesempatan yang tak mungkin
bahagia menjadi
dilema yang harus ku pilih
hati hanya satu tuk dimiliki
namun dua cinta menghampiri
haruskah terbagi walau takkan sempurna
tuk dijalani
cinta takkan pernah salah
hanya waktunya tak tepat
cinta kan mengerti dan memilih
yang terbaik untuk kita
bahagia menjadi
dilema yang harus ku pilih
hati hanya satu tuk dimiliki
namun dua cinta menghampiri
haruskah terbagi walau takkan sempurna
tuk dijalani hooo oooo
bahagia kan menjadi dilema huuu
cinta takkan pernah salah
hanya waktunya tak tepat
cinta kan mengerti dan memilih
yang terbaik untuk kita
cinta takkan pernah salah (cinta takkan pernah salah)
hanya waktunya tak tepat (cinta takkan pernah salah)
cinta kan mengerti dan memilih yang terbaik untuk kita
Berikut Link official Vide klip OST Film The Chocolate chance :
https://youtu.be/1wWzyQ40E_U
FILM The chocolate chance Tayang 2 Februari 2017
Dari sudut sebuah café cokelat,
menyajikan manis pahit cinta…
Ini kisah tentang tiga hati
yang dipertemukan secangkir coklat hangat…
Berusaha untuk saling menjaga,
menahan untuk tidak saling menorehkan luka…
Kepada siapa hati harus diletakan…
Sinopsis.
Menceritakan Orvala Theobroma
( Pamela Bowie), perempuan pecinta cokelat.
Bahkan namanya pun beraroma cokelat. Salah satu impian Orvala adalah bekerja dalam hal yang berhubungan dengan coklat
Impiannya terwujud ketika bertemu Aruna Handrian( Miqdad Addausy), kekasihnya yang mengajak Orvala untuk bergabung mengelola sebuah kafe coklat, FeddeVelten Cafe, yang berkonsep Eropa.
Di Fedde Velten Cafe, Orvala menumpahkan segala passion-nya.
Di Fedde Velten Café Orvala bertemu kembali dengan
Juno Aswanda (Ricky Harun) kekasihnya di masa lalu
yang menghilang tanpa kabar berita.
Juno
menginginkan Orvala kembali, meminta kesempatan kepada Orvala untuk kembali kepadanya.
Cinta segi tiga pun
mulai muncul antara Orvala, Aruna dan
Juno. Kehadiran Fidela
( Sheila
Dara Aisya ) di Fedde Velten caffe sebagai sosok cinta Aruna di
masa lalu menambah rumit permasalahan.
Orvala harus bisa memutuskan kepada siapakah hati akan diletakan,
Aruna atau Juno? .
Rabu, 12 November 2014
Sebuah Catatan di balik film Catatan akhir kuliah part 1
Film dan aku.
Film buat aku adalah sebuah karya yang luar biasa, karena selain hiburan membuat gambaran kisah kisah yang ada di seluruh dunia. Sejak kecil aku sangat suka menonton film, sebelum aku mengenal bioskop.
Aku lahir di sebuh kabupaten kecil dengan nama Negara, tepatnya Hulu sungai selatan di provinsi Kalimantan selatan. Kota kecil yang berada dipedalaman, dari Banjarmasin harus menempuh sekitar 4 jam dengan angkotan yang sangat sederhana.( karena angkotannya mobil carry dengan penumpang yang penuh, dan hanya ada beberapa buah, dan lewat jam 4 sore sudah tidak ada yang operasi ) . kota negara berada dipesisir sungai negara, Dan di negara ini dulu saat kecil ada bioskop, tapi buat warga setempat yang 99 % islam, bioskop adalah tempat yang haram dikunjungi. Maklum pada saat itu tahun 90 an film indonesia dipenuhi dengan film film mesum dan penuh dengan adegan ranjang, sehingga pada saat itu buat saya yang berusia 10 tahun sangat terlarang dan diharmkan. Sehingga gedung bioskop yang pernah berjaya tahun 80an itu akhirnya sepi penonton, dan lambat laun sekitar tahun 94 biokop ini tutup dan akhirnya gedungnya rata dengan tanah. Dan aku tidak pernah masuk dan menonton film dibiokop tua sampai dengan gedung rata dengan tanah. Miris.
beruntunglah pada saat itu ada video, dan orang yang cukup kaya dikampung gue memilikinya. setiap ada hajatan orang kawin acara nobar dengan TV 29 Inci ( tabung jadul ) dan pemutar VHS ( sebelum VCD ) perangkat itu disewa. Film yang ditayangkan pun beragam, dari FILM Bang haji Rhoma Irama, Barry Prima, Warkop sampai ffilm Rano karno. Tentunya yang paling favorite adalah Film Warkop DKI, meskipun tidak pantes untuk di tonton usia aku pada saat itu, tapi kami tidak pernah dilarang untuk menonton Warkop.
Setiap minggu di rumah orang yang lumayan kaya dikampungku ini mengadakan nonton dengan hanya membayar Rp.100 untuk 1 film kami bisa menonton film bioskop dengan TV 29 dengan berbagai judul film yang sudah ditentukan empunya rumah. suka suka dia, mau komedi, action, drama, tergantung sedapatnya VHS yang juga sewa di sebuah rental video.
Pada saat itulah aku sangat menyukai nonton film, dan sampai saat ini aku masih sangat menyukainya. setiap aku menonton aku selalu kagum dan bahkan bertanya bagaimana membuatnya. tapi buat teman teman sepermainanku mereka hanya jawab kalau itu film adalah nyata dan bukan bohongan. bahkan buat mereka film bang haji itu benaran nyata begitu adanya, tanpa rekayasa ( naif sekali ). sebenarnya aku tidak terima dengan jawaban mereka, masa ada adegan pukul, tembakan, sampai adegan bang haji kehausan di sebuah padang pasir ( aku lupa film apa ini, tapi disini si bang haji naik kuda ) itu benaran. tapi percuma debat kusir dengan mereka yang sangat mencintai idolanya tanpa berpikir logika. intinya tidak ada jawaban yang benar saat aku bertanya bagaimana bikin film kepada orang orang sekampungku, mereka hanya jawab sekenanya karena mereka juga gak tahu.
sejak saat itulah aku sangat suka mencari tahu tentang bagaimana bikin film. tapi karena keterbatasan informasi dan buku buku mengenai film hal itu membuat aku lamban dan bahkan tidak tahu sama sekali
bagaimana bikin film( miris ).
Tapi beruntung pada saat aku sekolah Tingkat atas banyak film indonesia di produksi, salah satunya AADC yang sangat fenomenal. meskipun nonton di VCD bajakan dimana eding film di tulis karena si pembajak kayanya kehabisan kaset rekaman pada saat ngebajak di bioskop. Pada saat itu banyak buku buku film dibuat, dari skenarionya sampai dengan prosesnya. dari sanalah ketertarikanku untuk membuat skenario dengan belajar dari format format buku skenario jadi yang dicetak dari filmnya.
Sejak lulus di tingkat akhir, aku memutuskan untuk hijrah ke jakarta. hanya dengan bermodal uang 4 juta, mesin TIK merek Brother dan nekat aku memutuskan untuk merantau. tujuanku kuliah di jakarta, dan bisa menjadi seorang penulis skenario film. semua orang kalau mendengar itu pasti ketawa, karena buat mereka itu bukan sebuah cita cita. tapi aku tidak peduli, aku memutuskan untuk kejakarta kalau bisa sekolah dibidang perfilman.
Ternyata hidup di jakarta tidaklah sesuatu yang mudah. selain ini tempat yang asing, aku juga tidak punya sanak keluarga di jakarta. Hanya dengan bantuan paman sahabatku yang menampungku beberapa hari di jakarta, aku mulai mengenal ibu kota yang kata orang lebih kejam dari ibu tiri. karena alasan takut merepotkan akhirnya aku memutuskan untuk pindah mencari tempat kost. Karena lokasi paman sahabatku itu di area condet, akupun mencari kost di area condet tepatnya di jalan ciliwung. karena hanya disana kost dapat murah meskipun hanya berukuran 2 X1,5 meter aku mulai mengadu nasib di jakarta.
Ternayta jakarta tidak seindah rencanaku yang sudah aku susun dengan matang di kampung. Pertama kali aku datang ke IKJ mau masuk sekolah film, tapi setelah melihat uang pendaftaran yang puluhan juta aku jadi meringis. menyedihkannya aku pikir uang masuk kuliah itu hanya beberapa juta, tidak pernah terpikirkan puluhan juta. aku pun mendatangi kampus yang bukan sekolah film tapi hasilnya sama, masih meringis melihat uang pendaftaran dan biaya semester. saat iru aku merasa indonesia itu tidak adil, tidak adil buat aku yang miskin dan otak yang seadanya.
mengingat modal yang aku bawa hanya 5 juta. ok sepertinya sekolah film memang tidak direstui tuhan, akhirnya aku memutuskan untuk sekolah yang dekat dengan dunia televisi, maka aku putuskan sekolah di STIKOM dengan jurusan periklanan, meskipun baru kuketahui kalau kampus ini baru berdiri 2 tahun dan belum memiliki alumni. Dan sekolahnya pun di roku lantai 3. ok mungkin kuliah di jakarta emang gini, karena lahan / tanah mahal makanya mereka hanya bangun kelas minimalis ( ini hanya menghibur diri ), karena bayanganku aku kuliah di kampus besar seperti UI. pada saat itu aku meniatkan uang 5 juta untuk bayar kuliah itu, kalau memang ditakdirkan jadi sarjana, maka uang ini akan berokah, tapi kalau tidak aku tidak pernah menyesal dan ikhlas. karena sebenarnya orang tua ku tidak setuju aku kuliah, apalagi di jakarta. dengan tidak direstuinya aku kuliah itulah maka tidak akan pernah ada uang jajan dan uang kuliah yang akan aku minta kepada mereka.
BERSAMBUNG bagian 2
Film buat aku adalah sebuah karya yang luar biasa, karena selain hiburan membuat gambaran kisah kisah yang ada di seluruh dunia. Sejak kecil aku sangat suka menonton film, sebelum aku mengenal bioskop.
Aku lahir di sebuh kabupaten kecil dengan nama Negara, tepatnya Hulu sungai selatan di provinsi Kalimantan selatan. Kota kecil yang berada dipedalaman, dari Banjarmasin harus menempuh sekitar 4 jam dengan angkotan yang sangat sederhana.( karena angkotannya mobil carry dengan penumpang yang penuh, dan hanya ada beberapa buah, dan lewat jam 4 sore sudah tidak ada yang operasi ) . kota negara berada dipesisir sungai negara, Dan di negara ini dulu saat kecil ada bioskop, tapi buat warga setempat yang 99 % islam, bioskop adalah tempat yang haram dikunjungi. Maklum pada saat itu tahun 90 an film indonesia dipenuhi dengan film film mesum dan penuh dengan adegan ranjang, sehingga pada saat itu buat saya yang berusia 10 tahun sangat terlarang dan diharmkan. Sehingga gedung bioskop yang pernah berjaya tahun 80an itu akhirnya sepi penonton, dan lambat laun sekitar tahun 94 biokop ini tutup dan akhirnya gedungnya rata dengan tanah. Dan aku tidak pernah masuk dan menonton film dibiokop tua sampai dengan gedung rata dengan tanah. Miris.
beruntunglah pada saat itu ada video, dan orang yang cukup kaya dikampung gue memilikinya. setiap ada hajatan orang kawin acara nobar dengan TV 29 Inci ( tabung jadul ) dan pemutar VHS ( sebelum VCD ) perangkat itu disewa. Film yang ditayangkan pun beragam, dari FILM Bang haji Rhoma Irama, Barry Prima, Warkop sampai ffilm Rano karno. Tentunya yang paling favorite adalah Film Warkop DKI, meskipun tidak pantes untuk di tonton usia aku pada saat itu, tapi kami tidak pernah dilarang untuk menonton Warkop.
Setiap minggu di rumah orang yang lumayan kaya dikampungku ini mengadakan nonton dengan hanya membayar Rp.100 untuk 1 film kami bisa menonton film bioskop dengan TV 29 dengan berbagai judul film yang sudah ditentukan empunya rumah. suka suka dia, mau komedi, action, drama, tergantung sedapatnya VHS yang juga sewa di sebuah rental video.
Pada saat itulah aku sangat menyukai nonton film, dan sampai saat ini aku masih sangat menyukainya. setiap aku menonton aku selalu kagum dan bahkan bertanya bagaimana membuatnya. tapi buat teman teman sepermainanku mereka hanya jawab kalau itu film adalah nyata dan bukan bohongan. bahkan buat mereka film bang haji itu benaran nyata begitu adanya, tanpa rekayasa ( naif sekali ). sebenarnya aku tidak terima dengan jawaban mereka, masa ada adegan pukul, tembakan, sampai adegan bang haji kehausan di sebuah padang pasir ( aku lupa film apa ini, tapi disini si bang haji naik kuda ) itu benaran. tapi percuma debat kusir dengan mereka yang sangat mencintai idolanya tanpa berpikir logika. intinya tidak ada jawaban yang benar saat aku bertanya bagaimana bikin film kepada orang orang sekampungku, mereka hanya jawab sekenanya karena mereka juga gak tahu.
sejak saat itulah aku sangat suka mencari tahu tentang bagaimana bikin film. tapi karena keterbatasan informasi dan buku buku mengenai film hal itu membuat aku lamban dan bahkan tidak tahu sama sekali
Tapi beruntung pada saat aku sekolah Tingkat atas banyak film indonesia di produksi, salah satunya AADC yang sangat fenomenal. meskipun nonton di VCD bajakan dimana eding film di tulis karena si pembajak kayanya kehabisan kaset rekaman pada saat ngebajak di bioskop. Pada saat itu banyak buku buku film dibuat, dari skenarionya sampai dengan prosesnya. dari sanalah ketertarikanku untuk membuat skenario dengan belajar dari format format buku skenario jadi yang dicetak dari filmnya.
Sejak lulus di tingkat akhir, aku memutuskan untuk hijrah ke jakarta. hanya dengan bermodal uang 4 juta, mesin TIK merek Brother dan nekat aku memutuskan untuk merantau. tujuanku kuliah di jakarta, dan bisa menjadi seorang penulis skenario film. semua orang kalau mendengar itu pasti ketawa, karena buat mereka itu bukan sebuah cita cita. tapi aku tidak peduli, aku memutuskan untuk kejakarta kalau bisa sekolah dibidang perfilman.
Ternyata hidup di jakarta tidaklah sesuatu yang mudah. selain ini tempat yang asing, aku juga tidak punya sanak keluarga di jakarta. Hanya dengan bantuan paman sahabatku yang menampungku beberapa hari di jakarta, aku mulai mengenal ibu kota yang kata orang lebih kejam dari ibu tiri. karena alasan takut merepotkan akhirnya aku memutuskan untuk pindah mencari tempat kost. Karena lokasi paman sahabatku itu di area condet, akupun mencari kost di area condet tepatnya di jalan ciliwung. karena hanya disana kost dapat murah meskipun hanya berukuran 2 X1,5 meter aku mulai mengadu nasib di jakarta.
Ternayta jakarta tidak seindah rencanaku yang sudah aku susun dengan matang di kampung. Pertama kali aku datang ke IKJ mau masuk sekolah film, tapi setelah melihat uang pendaftaran yang puluhan juta aku jadi meringis. menyedihkannya aku pikir uang masuk kuliah itu hanya beberapa juta, tidak pernah terpikirkan puluhan juta. aku pun mendatangi kampus yang bukan sekolah film tapi hasilnya sama, masih meringis melihat uang pendaftaran dan biaya semester. saat iru aku merasa indonesia itu tidak adil, tidak adil buat aku yang miskin dan otak yang seadanya.
mengingat modal yang aku bawa hanya 5 juta. ok sepertinya sekolah film memang tidak direstui tuhan, akhirnya aku memutuskan untuk sekolah yang dekat dengan dunia televisi, maka aku putuskan sekolah di STIKOM dengan jurusan periklanan, meskipun baru kuketahui kalau kampus ini baru berdiri 2 tahun dan belum memiliki alumni. Dan sekolahnya pun di roku lantai 3. ok mungkin kuliah di jakarta emang gini, karena lahan / tanah mahal makanya mereka hanya bangun kelas minimalis ( ini hanya menghibur diri ), karena bayanganku aku kuliah di kampus besar seperti UI. pada saat itu aku meniatkan uang 5 juta untuk bayar kuliah itu, kalau memang ditakdirkan jadi sarjana, maka uang ini akan berokah, tapi kalau tidak aku tidak pernah menyesal dan ikhlas. karena sebenarnya orang tua ku tidak setuju aku kuliah, apalagi di jakarta. dengan tidak direstuinya aku kuliah itulah maka tidak akan pernah ada uang jajan dan uang kuliah yang akan aku minta kepada mereka.
BERSAMBUNG bagian 2
Senin, 15 Juni 2009
Liem Swie King the Movie
Liem Swie King, had been made as a film
The badminton manias always know about Liem Swie King. He is a legend of badminton; handsome, powerful, hero and he has a king smash. This film is co memory about him. Arie Sihasale and Nia Zulkarnaen are really smart person. They make a new genre film in Indonesia, their film is a mixture of sport and children themes. It is a rare film, because badminton is never being as a genre film in Indonesia. People know that badminton is a trade mark of Indonesia.
“King” is a film and inspirited by Liem Swie King. This is not about story of Liem Swie King, but his soul and mind had been the base of this theme film. Yes, it is about the brave of King. There are three boys who love badminton. They have a badminton idol, Liem Swie King. The boys looking out a support from King to reach their goal and success live.
Nia and Arie have produce “Denias”, they are very smart to mix and blend Indonesian culture in a film. I wish this film will be a good quality film, and I hope people will appreciate it. I think it is an award for Liem Swie King who He is a hero of Badminton of Indonesia. I hope this film also can make support and motivate Indonesian Young man, especially about fighting and nationalism.
Wulan Guritno and Ario Wahab are employee in this scenes film. The producer makes some audition to find the boys talent. They scout talent in some badminton club, they want some boys just not only have a good acting but also have a good badminton skills. I wish this film can reach his success as Denias in the past, in film festival and also in the cinema. (Written by Adjie and Joe)
“King” is a film and inspirited by Liem Swie King. This is not about story of Liem Swie King, but his soul and mind had been the base of this theme film. Yes, it is about the brave of King. There are three boys who love badminton. They have a badminton idol, Liem Swie King. The boys looking out a support from King to reach their goal and success live.
Nia and Arie have produce “Denias”, they are very smart to mix and blend Indonesian culture in a film. I wish this film will be a good quality film, and I hope people will appreciate it. I think it is an award for Liem Swie King who He is a hero of Badminton of Indonesia. I hope this film also can make support and motivate Indonesian Young man, especially about fighting and nationalism.
Wulan Guritno and Ario Wahab are employee in this scenes film. The producer makes some audition to find the boys talent. They scout talent in some badminton club, they want some boys just not only have a good acting but also have a good badminton skills. I wish this film can reach his success as Denias in the past, in film festival and also in the cinema. (Written by Adjie and Joe)
Sabtu, 13 Juni 2009
Garuda di dadaku
“Garuda di Dadaku” is a sport genre film in Indonesian; this theme is not common in Indonesian Film. And also children theme is not often as a genre film. Children theme films have a bad appreciation for producers of Indonesian Film. Do you remember, Indonesian film wake up from comma because a children theme film, Petualangan Sherina by Mira Lesmana. After that there are many followers to produce children film. But in latest time we can not easy to find this genre film. The children films usually make a box office in the cinema, as like as “Denias” and “Laskar Pelangi”,
Children film and sport film have been mixed in this film. I wish this film can make inspirations to the Indonesian Children…it is a nationalism mind.
Bayu in “Garuda di dadaku” is a boy, he stay at six levels in Elementary school. He always dreams in his live to be a superstar in football. Everyday he trains himself enthusiasm. He dribble ball along the way to everywhere he goes. Until he reach a court to play in. Heri is Bayu friend, he is a maniac football. Heri very believe in that Bayu have a very good skill in football. Heri always support Bayu, and he push and recommend Bayu to follow a selection and joint U-13 Team Football. This team will play for Indonesia in an international competition. But Mr. Usman, he is Bayu grandfather had not agree with Bayu ideas. A football player is a poor live in the future...
Bayu and Heri have a support from Zahra, she is a mysterious girl. They always find out many ways in order to make Bayu can train and play football. But they always find some barriers and barriers to make Bayu dreams come true. (Written by ADjie and Joe ).
Fhoto by :http://www.garudadidadaku.com
Minggu, 07 Juni 2009
Ketika cinta bertasbih
Derived from a novel
“Ketika Cinta Bertasbih” is derived from a novel by Habibburahman El Sirazy. “Ketika cinta Bertasbih” is content two serial book and they are popular in Indonesian book society. Until this time about one million novels have been sold out.
This film focused to the live journey of Azzam (M Cholidi Asadil Alam). He is an Indonesian student of Al Azhar University in Cairo, Egypt.After Azzam fathers passed away, his mother get down and sickness. In Indonesia Azzam sisters still young and they can not help their mother. Actually Azzam have to help his mother and his sisters, because he is the eldest brother in his family. Actually Azzam consider about it. He changes his focused to find some money than study. He gets some money by produce and selling Tempe and meat ball. Azzam more focused to his business. Than he fail in his study. Azzam study has been hold about nine years; some times he had failed in his examination. In other side his business makes him popular, especially in the Indonesian Embassy. He meet Eliana (Alice Norin) a modern-beautiful girls, a daughter of Indonesian Ambassador of Egypt.
The live journey and love of Azzam is not easy, and they can make a soul scarification to the audiences. His journeys bring the audiences to more understand about the secret of God and also about love. Suddenly Anna (Oki Setiana) comes, she is a Moslem girls and she has attract Azzam. Anna and Azzam mystery love had been package in a different ways than the other drama-love story films. Azzam connection with his sister Husna (Meyda Sefira) and also with Furqan (Andi Arsyil) his Indonesian college friend had made this story more valuable. Since Furqan has an AIDS.
All the setting in the novel had been captured in the original places in Cairo, Egypt; include Neil Rivers, Indonesian Embassy, and Al-Azhar University. You know all the places usually are forbidden on screen film production especially for foreign producers. Half of the Indonesian students of Al-Azhar University have been employed also in this film.
Sinemart Pictures fall in love to make the film full version as per the novel. They take on action in the original location as been written in the novel. The audition processing to find actor and actress talents who have a similarity as the novel have been produce as a reality show. The director film is Chaerul Ummam; He is absent about eleven years from film production. Melly Goeslaw give her song to be the soundtrack film. Ok, we are waiting this film, suppose this film will be distribute to eight country as such Indonesia, Malaysia, Brunei, Egypt, Australia, Honking, Singapore and Taiwan. They will make a launching film the same day in the eight countries above. Is this film will be an Indonesian Best seller Film in the world? Maybe.
sumber and Foto by : http://www.filmketikacintabertasbih.com
This film focused to the live journey of Azzam (M Cholidi Asadil Alam). He is an Indonesian student of Al Azhar University in Cairo, Egypt.After Azzam fathers passed away, his mother get down and sickness. In Indonesia Azzam sisters still young and they can not help their mother. Actually Azzam have to help his mother and his sisters, because he is the eldest brother in his family. Actually Azzam consider about it. He changes his focused to find some money than study. He gets some money by produce and selling Tempe and meat ball. Azzam more focused to his business. Than he fail in his study. Azzam study has been hold about nine years; some times he had failed in his examination. In other side his business makes him popular, especially in the Indonesian Embassy. He meet Eliana (Alice Norin) a modern-beautiful girls, a daughter of Indonesian Ambassador of Egypt.
The live journey and love of Azzam is not easy, and they can make a soul scarification to the audiences. His journeys bring the audiences to more understand about the secret of God and also about love. Suddenly Anna (Oki Setiana) comes, she is a Moslem girls and she has attract Azzam. Anna and Azzam mystery love had been package in a different ways than the other drama-love story films. Azzam connection with his sister Husna (Meyda Sefira) and also with Furqan (Andi Arsyil) his Indonesian college friend had made this story more valuable. Since Furqan has an AIDS.
All the setting in the novel had been captured in the original places in Cairo, Egypt; include Neil Rivers, Indonesian Embassy, and Al-Azhar University. You know all the places usually are forbidden on screen film production especially for foreign producers. Half of the Indonesian students of Al-Azhar University have been employed also in this film.
Sinemart Pictures fall in love to make the film full version as per the novel. They take on action in the original location as been written in the novel. The audition processing to find actor and actress talents who have a similarity as the novel have been produce as a reality show. The director film is Chaerul Ummam; He is absent about eleven years from film production. Melly Goeslaw give her song to be the soundtrack film. Ok, we are waiting this film, suppose this film will be distribute to eight country as such Indonesia, Malaysia, Brunei, Egypt, Australia, Honking, Singapore and Taiwan. They will make a launching film the same day in the eight countries above. Is this film will be an Indonesian Best seller Film in the world? Maybe.
sumber and Foto by : http://www.filmketikacintabertasbih.com
CAPRES : CALO PRESIDENT.
Is there any goodmind in the politic live?
Opening scenes, KPK is discloser a party leader, ASU (Anggaran Semuanya Untukmu : All the Budgeting is for you”) from a corruption conspiracy. The candidate went to election as a President. Finally all the founding party makes a decision to find another candidate. They want someone who can follow their ways. They have to find someone who have a foolish character, stupid, green mind that he just will be a puppet leader only. This leader next only will be a bumper of their greed mind. After selection from some candidates, finally they are choosing Hartono as the next leader of ASU party. Hartono is an administration staff but he has only an office boy duties. Dwi Sasono has cast as Hartono, a loyal and foolish officer.
The problem get start open up, while he start asking in his mind and his hart. Is it a right policy ways? While he is watching all his colleagues in ASU party make some crimes openly. But after he has guiding from Kelik Pelipur Lara, Effendy Gozaly and Denny as politic consultants, Hartono just make breaking rules from their founding party decision. He has to fight directly to pay back all their crimes. Upon he must counter back all their friends in his party. There are many crimes such as: killing someone, corruption, sex facilities, image character killing etc. But Hartono have become a smart leader now. Finally he can win his election, and he can reach his order as an Indonesian President.
This film has produce as a critical ways to Indonesian policy system, but in a comedy film story by the team of Republic Mimpi. The team always makes some reality show. Usually they make critical and parody of Indonesian politic. You have to see Capres the comedy film. It is a good film and good critical ways. Especially if you are a party candidate in the next Indonesian election. Even do it is a comedy film, there are some messages that you must learn and understand.
But the weaknesses of this film are the lighting effect and pictures. The pictures and lighting are not manage well. We can see this film as a low price budgeting film. We have some gossip that the budget is more expensive than “Laskar Pelangi (Rainbow Squad)” because there are some politic screen on this film likes: Yusuf Kalla, Gus Dur, Hidayat Nur Wahid, Andi Mallarangeng, Sys N, etc. Notabene they are all the politics in Indonesia Nowadays.
Cast & Crew
Genre Film :
Drama/comedy
Producer :
Shankar Rs
Production:
Ninefx Production
Duration :
90
Cast:
Dwi Sasono
Happy Salma
Catherine Wilson
Sujiwo Tejo
Butet Kertaredjasa
Kelik Pelipurlara
Denny Chandra
Remy Silado
Director :
Toto Hoedi
Foto by : www.capresthemovie.com
The problem get start open up, while he start asking in his mind and his hart. Is it a right policy ways? While he is watching all his colleagues in ASU party make some crimes openly. But after he has guiding from Kelik Pelipur Lara, Effendy Gozaly and Denny as politic consultants, Hartono just make breaking rules from their founding party decision. He has to fight directly to pay back all their crimes. Upon he must counter back all their friends in his party. There are many crimes such as: killing someone, corruption, sex facilities, image character killing etc. But Hartono have become a smart leader now. Finally he can win his election, and he can reach his order as an Indonesian President.
This film has produce as a critical ways to Indonesian policy system, but in a comedy film story by the team of Republic Mimpi. The team always makes some reality show. Usually they make critical and parody of Indonesian politic. You have to see Capres the comedy film. It is a good film and good critical ways. Especially if you are a party candidate in the next Indonesian election. Even do it is a comedy film, there are some messages that you must learn and understand.
But the weaknesses of this film are the lighting effect and pictures. The pictures and lighting are not manage well. We can see this film as a low price budgeting film. We have some gossip that the budget is more expensive than “Laskar Pelangi (Rainbow Squad)” because there are some politic screen on this film likes: Yusuf Kalla, Gus Dur, Hidayat Nur Wahid, Andi Mallarangeng, Sys N, etc. Notabene they are all the politics in Indonesia Nowadays.
Cast & Crew
Genre Film :
Drama/comedy
Producer :
Shankar Rs
Production:
Ninefx Production
Duration :
90
Cast:
Dwi Sasono
Happy Salma
Catherine Wilson
Sujiwo Tejo
Butet Kertaredjasa
Kelik Pelipurlara
Denny Chandra
Remy Silado
Director :
Toto Hoedi
Foto by : www.capresthemovie.com
Langganan:
Postingan (Atom)


